Minggu, 22 Januari 2012

SHOW ME WHAT YOU WANT

oleh Aditya Putra Priyahita pada 9 Januari 2012 pukul 19:13
Beberapa kali saya dibuat jengkel sekaligus prihatin saat hendak melakukan shalat berjamaah di Masjid. Ketika berbaris membentuk shaf shalat seringkali saya harus melakukan ritual “romantis” dengan jamaah di sebelah kanan atau kiri saya: KEJAR-KEJARAN KAKI! Entah sudah berapa ratus shalat jamaah yang saya lalui dengan ritual menyebalkan ini.

Setiap saya berusaha merapatkan kaki saya dengan jamaah lain di sebelah saya, setiap kali itu pula mereka menjauhkan kakinya dari kaki saya. Karena saya merasa wajib merapatkan shaf, saya kejar lagi kaki jamaah di samping saya itu. Saya tempelkan lagi sisi samping kaki saya di kakinya. Eh, dia masih juga menggeser kakinya menjauh, tidak mau merelakan kakinya ditempeli kaki saya. Perasaan kaki saya juga nggak jelek-jelek amat, kenapa masih dijauhi? batin saya sedih.

Coba lagi ahh. Untuk yang ketiga kalinya saya menempelkan kaki saya lagi. Dan, luar biasa! Dia masih istiqomah menjauhkan kakinya dari kaki saya. Grrrr, Lama-lama aku injek juga ni orang, diiket plus dilakban biar nggak lari-lari lagi! batinku. Astaghfirullah, mau shalat malah emosi.

Biasanya setelah tiga kali percobaan gagal, saya menyerah. Terserah! Yang penting saya sudah berusaha merapatkan shaf. Mending fokus memulai shalat daripada melanjutkan ritual yang romantis tapi menyedihkan itu. Kaki saya ditolak! Loe, gue, END! Mulai saat ini kaki kita berjalan sendiri-sendiri saja! (Ya iyalah!)

Kejadian ini saya yakin juga sering dialami oleh teman-teman semua. Terutama di daerah pedesaan atau Masjid yang masih kental suasana tradisionalnya. Dan mayoritas kasus ini saya alami dengan orang-orang yang sudah tua.

Saya sendiri merasa heran. Padahal sebelum shalat banyak imam yang sudah mengingatkan dengan jelas, rapatkan dan luruskan shaf! Dan bapak-bapak terhormat yang menghindari kaki saya itu juga dengan jelas mengatakan “Sami’na wa atho’na”. Hello!!! Mana wa atho’na nya, Pak?!

Atau ketika pun imam tidak mengingatkan jamaah untuk merapatkan shaf, para jamaah seharusnya juga sudah memahami bahwa shalat berjamaah itu harus meluruskan dan merapatkan shaf. Nah, ini yang jadi PR. Para jamaah yang memang belum tahu atau sudah tahu tapi menyepelekannya? Entahlah.

Oke, saya tidak mau membahas itu. Yang saya pikirkan adalah bagaimana agar saya sebisa mungkin tetap bisa meluruskan dan merapatkan shaf. Agar kaki saya yang indah ini tidak ditolak lagi oleh jamaah sebelah. Ini menjadi sangat urgent mengingat betapa pentingnya meluruskan shaf dalam shalat jamaah. Lebih lanjut tentang ini bisa dibaca di link berikut.

http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/pentingnya-meluruskan-dan-merapatkan-shaf-ketika-sholat-berjamaah.htm

Tentu solusinya bukan dengan menceramahi mereka tentang pentingnya merapatkan shaf saat itu juga sebelum shalat. Bisa-bisa malah jadi panjang urusannya. Bukan pula dengan mendandani kaki saya agar tampak lebih menarik agar banyak kaki mau mendekat. (Please, deh!).

Alhamdulillah beberapa waktu yang lalu saya sudah menemukan cara yang cukup efektif untuk mengatasi jamaah yang keukeuh tidak mau merapatkan shaf. Walau cara ini tidak berhasil 100%, tapi cukup drastis mengurasi insidensi ritual kejar-kejaran kaki itu. Simple saja. Setiap hendak merapatkan kaki saya dengan kaki jamaah lain di sebelah, saya mencondongkan badan ke bawah agak lama sambil melihat ke bawah seolah memastikan bahwa kaki saya dan jamaah sebelah benar-benar rapat, atau setidaknya bersentuhan. Dan ajaib! Jamaah yang biasanya menjauhkan kakinya dari kaki saya kali ini diam. Merelakan kakinya bersentuhan erat dengan kaki saya. Alhamdulillah, kaki saya diterima! Yess!

Bingung kenapa bisa begitu? Cara ini berhasil karena sebuah prinsip yang saya terapkan: SHOW ME WHAT YOU WANT! Yup, apa yang saya lakukan dengan mencondongkan badan ke bawah tadi cuma punya satu tujuan, yaitu MENUNJUKKAN kepada jamaah di sebelah saya bahwa saya benar-benar ingin merapatkan kaki saya dengan kakinya. Ya, menunjukkan. Jadi jamaah sebelah akan memahami bahwa merapatnya kaki kami berdua adalah sebuah kesengajaan yang saya inginkan, bukan sebuah kebetulan. Hal ini setidaknya membuat jamaah sebelah menghormati keinginan saya dan bersedia merapatkan kakinya dengan kaki saya.

Sebelumnya jamaah sering menjauhi kaki saya mungkin karena merasa tidak nyaman dengan kaki yang saling menempel dengan jamaah lain. Atau justru tidak ingin membuat jamaah lain merasa tidak nyaman. Saya pribadi pun jika merapatkan shaf bukan keharusan saya memilih tidak merapatkannya karena memang lebih enak kalo kaki kita tidak saling menempel waktu shalat.

Menunjukkan kepada jamaah lain bisa dengan seperti yang saya lakukan (dengan gerakan tubuh) atau dengan ucapan (tapi bukan ceramah, lho!) atau dengan kombinasi keduanya. Untuk kondisi biasa saya memilih dengan gerakan tubuh saja. Tapi untuk kondisi khusus saya biasanya menambahinya dengan kata-kata. Misalnya untuk orang yang saya hormati atau lebih tua saya ucapkan “Monggo, Pak dirapatkan shafnya” atau jika dengan anak-anak atau orang yang lebih muda dan potensial ngeyel saya katakan “Ayo dik, dirapetin shaf-nya” sambil sedikit merangkul pinggang atau bahunya dan menariknya mendekat ke arah saya.

Orang Indonesia (terutama orang Jawa) yang sering nggak enakan sama orang lain biasanya akan menurut dengan kata-kata itu. Dengan apa yang saya lakukan tadi harapannya jamaah di samping saya akan memahami pentingnya mempraktekkan kelurusan dan kerapatan shaf tanpa harus diceramahi. Atau kalaupun tidak, mereka akan merapatkan shaf karena merasa sungkan atau nggak enak sama saya. Itu lebih baik daripada shaf shalatnya tidak rapat.

Nah itu sekadar pengalaman betapa pentingnya menunjukkan apa yang kita inginkan kepada orang lain. SHOW ME WHAT YOU WANT adalah sebuah prinsip fundamental dalam komunikasi yang berfungsi memastikan bahwa tujuan sebuah komunikasi itu tersampaikan. Komunikasi sendiri adalah hal vital dalam setiap jenis hubungan antarmanusia. Sebuah hubungan akan menjadi baik dan sehat jika komunikasi yang ada di dalamnya juga sehat.

Banyak kasus kerenggangan atau keretakan hubungan manusia yang berawal dari rusaknya komunikasi. Perceraian suami istri, ketegangan dalam kantor antara atasan dan bawahan atau antara sesama pegawai, ketidakharmonisan hubungan orang tua anak, dan sebagainya. Dan betapa banyak kerusakan komunikasi itu berawal dari keengganan kita untuk menunjukkan dan menyampaikan apa yang sesungguhnya kita inginkan dan kita rasakan.

Seorang istri merasa tidak dicintai suaminya karena tidak pernah mendapatkan ungkapan kasih sayang secara verbal dari suaminya yang pemalu dan kurang ekspresif. Namun, sang istri tak mau mengatakan pada suaminya tentang keinginannya agar setiap pagi suaminya “sekadar” mengucapkan “I love you” sebagai charge semangatnya untuk beraktivitas seharian. Berharap suaminya bisa tahu dengan sendirinya keinginannya itu.

Dan sayangnya sang suami bukan dukun atau pesulap yang bisa menebak apa keinginan istri tanpa diberitahu. Suaminya yang introvert itu tak pernah tahu apa yang diinginkan istrinya. Padahal Ia sebenarnya sangat ingin membahagiakan istrinya setelah merasakan bahwa akhir-akhir ini hubungan mereka agak merenggang.

Celakanya, si suami juga tidak menyampaikan kepada istrinya tentang keinginannya untuk memperbaiki hubungan mereka dengan memberikan kebahagiaan lebih kepada istrinya dengan mengabulkan permintaannya. Ia berharap istrinya nanti akan berinisiatif menyampaikan keinginannya padanya sehingga Ia bisa dengan heroik memenuhi keinginan istri tercintanya itu. Sebuah ucapan “I love you” setiap pagi tentu saja tidak berat bagi sang suami, ANDAI SAJA IA TAHU.

Lengkap sudah, saling berdiam diri seperti ini bisa saja membawa pernikahan mereka pada kehancuran. Istri merasa suaminya sudah tidak sayang lagi bahkan mempunyai wanita lain di luar rumah karena tak sekalipun mengungkapkan rasa cintanya padanya. Sementara sang suami merasa tidak dipedulikan lagi oleh istrinya karena bahkan istrinya sudah enggan meminta kepadanya. Menyedihkan.

Hubungan orangtua dan anak sama saja. Banyak anak terjebak mengikuti pilihan orang tuanya soal studi, jodoh, atau apapun dengan membunuh keinginan pribadinya karena Ia tak pernah berani menyampaikan pada orangtuanya apa yang sebenarnya ia inginkan, sehingga hal itu bisa didiskusikan dengan orangtuanya. Demikian juga dengan hubungan persahabatan, hubungan dengan tetangga, orangtua dan anak, hubungan kerja, dan berbagai hubungan lainnya.

Panjang jika di bahas satu persatu mengenai pentingnya menunjukkan apa yang kita inginkan dan kita rasakan pada orang-orang di sekitar kita. Tapi satu hal yang pasti, mulai dari sekarang kita harus belajar untuk lebih terbuka karena ini adalah sebuah kebiasaan yang perlu dilatih. Orang yang terbiasa tertutup dan tak pernah mengungkapkan keinginan dan perasaannya akan seterusnya cenderung seperti itu sampai dia benar-benar mengupayakan untuk berubah.

Saya sendiri juga terlahir dengan kecenderungan seorang melankolis yang introvert. Jarang sekali mengungkapkan keinginan dan emosi secara langsung serta cenderung penjadi seorang pemendam perasaan. Dan saya sadar sepenuhnya bahwa saya harus mulai berbenah.

Sekarang saya sedang berusaha untuk lebih ekspresif mengungkapkan setiap perasaan yang saya rasakan. Jika saya memiliki suatu keinginan kepada seseorang, saya berusaha untuk menyampaikannya. Prinsip ini memang memerlukan keberanian sekaligus kerendahan hati. Tapi jika diterapkan secara tepat hal ini akan benar-benar meningkatkan kualitas hubungan kita dengan orang lain. Sikap terbuka ini dalam banyak hal juga membuat saya lebih lega karena tidak ada perasaan atau keinginan yang dipendam dalam hati.

Tentu sikap ekspresif ini tidak bisa digeneralisir untuk semua kasus. Karena ada hal-hal tertentu dimana kondisi memang mewajibkan kita untuk tidak mengekspresikan perasaan kita. Nah, adalah kebijaksanaan kita untuk mengenali kondisi-kondisi itu dengan terus berlatih berkomunikasi dan berinteraksi dengan berbagai macam orang. Yang menjadi penting di sini adalah memahami agar jangan sampai kita memendam perasaan dan keinginan di saat seharusnya kita menyampaikannya. Jangan sampai malapetaka hadir dalam kehidupan kita hanya karena kita malu atau gengsi menyatakan perasaan dan keinginan kita.

Allahu a’lam
Semoga bermanfaat. ^^9

kisah kita tak akan berakhir bahagia, jika kita tak bisa saling terbuka
karena aku tak mungkin dapat selalu membaca, apa makna yang tersirat di wajahmu
The Rain-Tersirat di Wajahmu

Purwokerto, 9 Januari 2012
www.adityasaja.blogspot.com

[Catatan] Sepetak Waktu di Sepenggal Usia

oleh Bezie Galih Manggala pada 17 Januari 2012 pukul 14:49
Sepetak Waktu di Sepenggal Usia
: elegi


“Tidak akan tergelincir dua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan, dan tentang ilmunya apa yang diperbuatkan dengan ilmunya tersebut”
(HR. Al-Bazzar dan Al-Thabrani).

Bismillahirrahmanirrahim

Senja itu, masih selalu saja terkenang dalam ingatan, sebuah senja yang tenang dengan bau segar rerumputan. Di hadapan sebuah kolam dengan hamparan teratai bermekaran, beberapa pemuda dengan gagah berlarian; tergopoh-gopoh membawa tas penuh makanan; kemudian duduk dan membentuk sebuah lingkaran.

Pada sebuah tanah lapang yang melandai, di kaki perbukitan yang ramai oleh kabut, hawa sejuk, dan sesekali, rintik gerimis pembawa harapan, serta gumpal awan yang menahankan sebuah kerinduan, tawa sesekali terdengar berderai dari lidah mereka yang sesekali berceloteh, berbagi makanan. Tenda-tenda nampak rapih didirikan. Kemudian sebuah antrian tercipta menghadirkan sebuah pemandangan yang menenangkan luar biasa, tentang insan-insan yang mematutkan pada wajah mereka cahaya-cahaya, yang terpancar dari basuhan air wudhu, dan keinginan untuk bersujud dihadapan Rabb yang selalu memberi mereka Rezeki dan Kebaikan tiada habisnya. Rabb Yang menciptakan barisan gunung-gunung yang bertasbih, langit yang meluas, dan semesta kasih. Rabb Yang, tanda-tandanya selalu terasa oleh mereka yang hatinya tulus dan bersih.

Tibalah waktunya muda-mudi itu berbaris rapih, duduk membentuk shaf-shaf yang membuat malaikat manapun cemburu lirih; betapa tidak? Disaat belia seusia mereka menghabiskan waktu berbelanja di mal-mal dan tempat hiburan, atau menghabiskan waktu mendengarkan nyanyian, tertawa karena permainan-permainan, sekelompok muda-mudi ini bertaqarub, mendekatkan diri mereka pada Allah dengan mentafakuri ayat-ayat ciptaanNya. Kemudian bersabar mengejar ilmuNya.

Pantaslah jika pada saat itu, saya terkenang pada sebuah hadits tentang hari akhir, yang ditakhrij oleh Imam Al-Bazzar dan At-Thabrani, dari Mu'adz Ibn Jabal R.A, bahwa Rasulullah SAW yang lidahnya selalu jujur dan tak pernah sekalipun berdusta, berkata bahwa pada hari akhir nanti, anak-anak Adam ini tidak akan beranjak dari hadapan Rabbnya, kecuali setelah ditanya kepadanya tentang 4 perkara; tentang usianya, masa mudanya, hartanya, dan ilmunya.

Di Gunung Salak, pada senja itu, pada kesempatan LDKR Runners SMKN 26 Jakarta, kami berdiskusi dan berbagi, diselingi dengan permaian-permainan menyenangkan yang bisa diamblikan ibrahnya, dibahas tentang bagaimana hadist diatas bisa menjadi sebuah motivasi untuk menghargai usia dan rezeki, dengan senantiasa mengejar ridha dan menyebar kebaikan dari Rabb Yang Maha Memberi.

“Tidak akan tergelincir dua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan, dan tentang ilmunya apa yang diperbuatkan dengan ilmunya tersebut”
(HR. Al-Bazzar dan Al-Thabrani).

Pada hari itu, diingatkan bahwa, hidup ini adalah sebuah ujian, ujian untuk sebuah keabadian [1], dimana hanya akan ada dua pilihan; kebahagiaan berkekalan, atau kesengsaraan tiada terperi.

Di akhir ujian itu, setelah bumi diguncangkan, dan manusia-manusia yang telah mati dibangkitkan, Rabb akan hadir dan malaikat berbaris-barisan, neraka akan ditampakkan; dan manusia-manusia ketakutan dan akan menyesal karena tidak pernah bersungguh-sungguh saat mengejar kebaikan. [2]

Pada detik-detik yang menegangkan tersebut, di hadapan semesta dan penduduk langit maupun bumi, semua hadir sejak awal generasi, akan ditanyakan pada kita tentang empat perkara itu, empat perkara itu! Empat perkara yang kita akan malu karena tidak pernah kita manfaatkan dengan lebih baik. Empat perkara yang karenanya tidak akan berhenti tangis kita, karena menahan sesal dan rasa malu yang luar biasa. Empat perkara yang adalah Usia, Masa Muda, Harta, dan Ilmu kita.

1. Usia
Apa yang telah kita lakukan sejak kelahiran kita? Apa yang telah kita berikan kepada mereka yang menjadi tanggung jawab kita?

Anak-anak kelaparan yang meminta-minta di sepanjang perempatan yang bisa kita temukan di sekitar Jakarta. Pengamen-pengamen di Galur, atau keluarga gerobak yang tidak se-beruntung kita yang selalu memiliki sahabat-sahabat yang baik, pendidikan yang layak, dan juga tempat bernaung? Tidakkah kita mensyukuri usia kita yang telah Allah penuhi dengan serba kecukupan? Tidakkah kita ingat bahwa kita di atas bumi ini adalah khalifah, manajer yang bertanggung jawab atas kesejahteraan dan keselamatan seluruh penghuninya? [3]

Apa yang akan kita jawab di hadapan Rabb kita dan para malaikatnya nanti? Serta barisan manusia yang menanti di belakang kita?

Sanggupkah jika kita harus berkata, "Usia hamba, sejak hamba lahir hingga Engkau cabut nyawa hamba pada saat mati, hanya hamba pergunakan memikirkan kepentingan diri sendiri.

Hamba mematut-matut diri di hadapan cermin selama berjam-jam tanpa memikirkan tetangga-tetangga hamba yang belum memiliki pakaian. Hamba mengejar karir dan capaian tanpa memikirkan tetangga-tetangga hamba yang masih kelaparan. Hamba menolak menyisihkan usia hamba untuk mentafakuri dosa-dosa dan pengkhianatan yang setiap hari hamba lakukan di hadapMu yaa Rabb. Bahkan hamba abai terhadap misteri-misteri kehidupan yang sebenarnya tercatat dengan rapih pada ayat-ayatMu. Hamba menghabiskan usia hamba untuk menghinakan diri hamba dengan mengkhianatiMu."

Ah, terbayangkan tangis yang berderai sebab betapa malunya kita jika kelak harus mengatakan yang seperti itu, na'udzubillah min dzalika.

2. Masa Muda

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Pemimpin yang adil. Pemuda yang menyibukkan diri dengan ibadah kepada Rabbnya. Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid. Dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah. Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’. Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. Orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.”(HR. Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712)

Masa muda menjadi sorotan tersendiri dalam islam dan ajarannya, terbukti ketika, meskipun Allah swt telah bertanya kepada anak-anak Adam tentang usianya, Allah masih juga secara khusus menanyakan tentang masa muda. Hal ini dapat kita pahami dengan mudah melihat adanya potensi yang luar biasa dari masa muda. Pada masa inilah seorang muslim dan manusia manapun yang ada di dunia, membentuk karakter dan jati dirinya. Akan sulit bagi seseorang yang terbiasa bermalas-malasan pada usia mudanya, untuk menjadi pekerja keras ketika mereka tua. Juga tidak mudah bagi mereka yang terbiasa bekerja keras dan belajar pada masa muda, jika harus menjadi seorang pemalas yang kehilangan ghairah pada masa tua.

Masa muda, bisa dibilang, adalah sepenggal usia dalam sebuah perjalanan kehidupan setiap manusia yang, nyaris menentukan segalanya. Bersahabatlah kita pada masa muda dengan orang-orang yang tidak dapat memberikan manfaat dunia akhirat bagi kita, mungkin setidaknya kita dapat bertahan untuk tidak terjerumus pada keburukan, tapi kelak kita akan menyesal karena seharusnya dapat mengumpulkan modal kebaikan lebih banyak untuk kita bagi-bagikan.

Berleha-lehalah kita pada masa muda dengan kesenangan-kesenangan, mungkin kelak kita masih akan mampu menghadirkan kesenangan yang sama pada masa tua, tapi bisa jadi kita akan terjebak pada pertanyaan-pertanyaan tentang tujuan hidup dan kebingungan akan makna kebahagiaan yang sejati. Ya, kesenangan tidak akan pernah dapat memuaskan jiwa manusia, yang manusia cari adalah ketenangan, dan bekerja keras mencari makna kebahagiaan pada masa muda, dapat membantu menghadirkan ketenangan tersebut.

Sebuah perbedaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus dalam jangka waktu yang cukup lama, selalu menghadirkan perbedaan-perbedaan besar. Bijak adalah berhati-hati dan selalu mengevaluasi apa yang kita lakukan pada masa muda kita. Tidak perlu dijalani dengan terlalu kaku, sesekali refreshment dan istirahat juga diperlukan. Tapi ingatlah untuk selalu memaksimalkan manfaat, sebab selain itu berpengaruh pada masa depan kita serta masa depan ummat, ternyata masa muda kita juga kelak akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT.

3. Harta
Dari mana kita dapatkan harta kita? Dari sumber-sumber pendapatan yang halal kah? Atau kita mendapatkan harta kita tanpa memperhatikan apakah Allah akan ridha atau tidak?

Pada proses pencarian pendapatan, adakah tercampur di dalamnya maksiat? Adakah pernah kita menyakiti perasaan saudara kita atas amanah yang tidak kita tuntaskan dengan baik dalam pekerjaan, atau sikut kiri sikut kanan hanya untuk mencari muka, posisi dan jabatan? Adakah tanpa sengaja kita mengundang kecemburuan Allah dengan interaksi yang berlebihan dengan rekan kerja non mahram? Atau lalai mengingatNya karena sibuk meraup rezeki? Naudzubillah min dzalika.

Lebih jauh lagi, untuk apa kita pergunakan harta kita? Adakah untuk kesenangan sesaat, atau kita pergunakan untuk menolong agama Allah dan mensucikan diri kita? Berusaha menjadikan diri kita orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Al-Qur'an agar termasuk kedalam golongan mereka yang selalu bertaqwa? [4]

Adakah terfikirkan dalam cita-cita kita untuk menjadi seperti Abdurrahman Ibn Auf, yang bergelimang harta yang berkah dan disedekahkan demi pembangunan dan kesejahteraan Madinah?

Adakah terbersit dalam hati kita bahwa usia ini akan diinfakkan untuk Jihad di JalanNya dengan cara memanfaatkan masa muda mengumpulkan keahlian yang kelak dapat digunakan untuk mengumpulkan harta yang dapat kita pergunakan mendirikan pesantren-pesantren modern? Dimana anak-anak yang kurang beruntung dapat mempelajari Arsitektur, Tata Kota, Ilmu pemerintahan, Sastra, Teknologi; agar kelak mereka menjadi sumber daya manusia yang turut membangun kembali Jakarta yang mulai nampak tua dan lelah oleh amarah yang hadir dari kemacetan juga kemiskinan?

Apa yang akan kita jawab dihadapan Rabb kita nanti ketika Dia bertanya tentang harta kita? Semoga kita akan mampu memberi jawaban yang baik. Jangan sampai kita menanggung malu nanti, na'udzubillah min dzalika.

4. Ilmu
Ilmu yang kita dapati, dipergunakan untuk apakah ia? Adakah ia kita jadikan koleksi dan kita hamburkan untuk caci maki kepada mereka yang kita anggap tidak lebih berilmu daripada kita? Ataukah kita jadikan senjata yang menguatkan kasih sayang dan perhatian yang kita miliki kepada mereka yang terlantar dan kelaparan? Hadir dan menjelma api yang menghangatkan mereka yang sehari-hari menggigil dan kedinginan? Dijadikan tetes-tetes air jernih oleh kerongkongan mereka yang sehari-hari kehausan?

Bukankah kita ini hamba-hamba Ar-Rahman? Yang kasihnya menyemestakan ampunan? Bukankah kita mengasihi saudara-saudara kita sebagaimana kita mengasihi diri kita sendiri? Bukankah kita mencintai Rasulullah yang bahkan di penghujung hayatnya sekalipun, masih saja memikirkan ummat yang dikasihinya?

Tidakkah kita ingin menyunggingkan senyum di bibir Rasulullah yang kita rindukan, berbincang-bincang dengannya di selasar-selasar puncak tertinggi Jannah, membicarakan betapa ilmu yang beliau wariskan telah berhasil kita jadikan tonggak yang menegakkan peradaban? Dengan izin Allah, kita telah membangun perusahaan-perusahaan yang membuka banyak sekali lapangan pekerjaan, membebaskan lahan-lahan pertanian untuk digunakan memenuhi kebutuhan pangan, menstabilkan harga makanan? Mendidik anak-anak dari mereka yang tadinya kelaparan sehingga mampu memikirkan cara-cara memenuhi kebutuhan?

Tidakkah kita ingin di hadapan Mizan, kelak, ketika Allah menanyakan tentang ilmu kita, kita mampu bersitatap manja, dengan perasaan bangga, di hadapan Rabb kita, dengan mengatakan bahwa ilmu titipanNya telah kita pergunakan untuk membuktikan kepadaNya, bahwa kita adalah hambaNya, hamba dari yang Maha Cinta kepada hambaNya?

“Tidak akan tergelincir dua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan, dan tentang ilmunya apa yang diperbuatkan dengan ilmunya tersebut”
(HR. Al-Bazzar dan Al-Thabrani).

Bersamaan dengan berakhirnya diskusi, senja hari itu pun turun, tergantikan malam yang terhadir anggun. Luruh bersama kerak-kerak kesombongan, tergantikan telaga-telaga penyesalan.

Kami, muda-mudi Runners saat itu, diam-diam menanamkan tekad dalam dada, berazzam dihadap Rabbuna, berdo'a, semoga ketika hadir pertanyaan serupa, kami telah melewati segalanya dengan hanya mengejar ridhaanNya, sehingga mampu hati kami bersaksi, "Radhitu billahi Rabba, wa bil islami diena, wa bimuhammadiwwarasula." Semoga kelak, Rabb kemudian akan berkata, "Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu. Dan masuklah ke dalam surgaKu." [5]

Betapa senja itu, adalah sepetak waktu di sepenggal usia, yang semoga tak pernah terlupa.

- Gunung Salak, Fathan Mubina. Muharram-Safar 1433

Catatan:
[1]. Q.S Al-Mulk (67:2)
[2]. Q.S Al-Fajr (89:21-24)
[3]. Q.S Al-Baqarah (2:31)
[4]. Q.S Al-Baqarah (2:1-3)
[5]. Q.S Al-Fajr (89:26-30)
welcoming spring .