Minggu, 22 Januari 2012

SHOW ME WHAT YOU WANT

oleh Aditya Putra Priyahita pada 9 Januari 2012 pukul 19:13
Beberapa kali saya dibuat jengkel sekaligus prihatin saat hendak melakukan shalat berjamaah di Masjid. Ketika berbaris membentuk shaf shalat seringkali saya harus melakukan ritual “romantis” dengan jamaah di sebelah kanan atau kiri saya: KEJAR-KEJARAN KAKI! Entah sudah berapa ratus shalat jamaah yang saya lalui dengan ritual menyebalkan ini.

Setiap saya berusaha merapatkan kaki saya dengan jamaah lain di sebelah saya, setiap kali itu pula mereka menjauhkan kakinya dari kaki saya. Karena saya merasa wajib merapatkan shaf, saya kejar lagi kaki jamaah di samping saya itu. Saya tempelkan lagi sisi samping kaki saya di kakinya. Eh, dia masih juga menggeser kakinya menjauh, tidak mau merelakan kakinya ditempeli kaki saya. Perasaan kaki saya juga nggak jelek-jelek amat, kenapa masih dijauhi? batin saya sedih.

Coba lagi ahh. Untuk yang ketiga kalinya saya menempelkan kaki saya lagi. Dan, luar biasa! Dia masih istiqomah menjauhkan kakinya dari kaki saya. Grrrr, Lama-lama aku injek juga ni orang, diiket plus dilakban biar nggak lari-lari lagi! batinku. Astaghfirullah, mau shalat malah emosi.

Biasanya setelah tiga kali percobaan gagal, saya menyerah. Terserah! Yang penting saya sudah berusaha merapatkan shaf. Mending fokus memulai shalat daripada melanjutkan ritual yang romantis tapi menyedihkan itu. Kaki saya ditolak! Loe, gue, END! Mulai saat ini kaki kita berjalan sendiri-sendiri saja! (Ya iyalah!)

Kejadian ini saya yakin juga sering dialami oleh teman-teman semua. Terutama di daerah pedesaan atau Masjid yang masih kental suasana tradisionalnya. Dan mayoritas kasus ini saya alami dengan orang-orang yang sudah tua.

Saya sendiri merasa heran. Padahal sebelum shalat banyak imam yang sudah mengingatkan dengan jelas, rapatkan dan luruskan shaf! Dan bapak-bapak terhormat yang menghindari kaki saya itu juga dengan jelas mengatakan “Sami’na wa atho’na”. Hello!!! Mana wa atho’na nya, Pak?!

Atau ketika pun imam tidak mengingatkan jamaah untuk merapatkan shaf, para jamaah seharusnya juga sudah memahami bahwa shalat berjamaah itu harus meluruskan dan merapatkan shaf. Nah, ini yang jadi PR. Para jamaah yang memang belum tahu atau sudah tahu tapi menyepelekannya? Entahlah.

Oke, saya tidak mau membahas itu. Yang saya pikirkan adalah bagaimana agar saya sebisa mungkin tetap bisa meluruskan dan merapatkan shaf. Agar kaki saya yang indah ini tidak ditolak lagi oleh jamaah sebelah. Ini menjadi sangat urgent mengingat betapa pentingnya meluruskan shaf dalam shalat jamaah. Lebih lanjut tentang ini bisa dibaca di link berikut.

http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/pentingnya-meluruskan-dan-merapatkan-shaf-ketika-sholat-berjamaah.htm

Tentu solusinya bukan dengan menceramahi mereka tentang pentingnya merapatkan shaf saat itu juga sebelum shalat. Bisa-bisa malah jadi panjang urusannya. Bukan pula dengan mendandani kaki saya agar tampak lebih menarik agar banyak kaki mau mendekat. (Please, deh!).

Alhamdulillah beberapa waktu yang lalu saya sudah menemukan cara yang cukup efektif untuk mengatasi jamaah yang keukeuh tidak mau merapatkan shaf. Walau cara ini tidak berhasil 100%, tapi cukup drastis mengurasi insidensi ritual kejar-kejaran kaki itu. Simple saja. Setiap hendak merapatkan kaki saya dengan kaki jamaah lain di sebelah, saya mencondongkan badan ke bawah agak lama sambil melihat ke bawah seolah memastikan bahwa kaki saya dan jamaah sebelah benar-benar rapat, atau setidaknya bersentuhan. Dan ajaib! Jamaah yang biasanya menjauhkan kakinya dari kaki saya kali ini diam. Merelakan kakinya bersentuhan erat dengan kaki saya. Alhamdulillah, kaki saya diterima! Yess!

Bingung kenapa bisa begitu? Cara ini berhasil karena sebuah prinsip yang saya terapkan: SHOW ME WHAT YOU WANT! Yup, apa yang saya lakukan dengan mencondongkan badan ke bawah tadi cuma punya satu tujuan, yaitu MENUNJUKKAN kepada jamaah di sebelah saya bahwa saya benar-benar ingin merapatkan kaki saya dengan kakinya. Ya, menunjukkan. Jadi jamaah sebelah akan memahami bahwa merapatnya kaki kami berdua adalah sebuah kesengajaan yang saya inginkan, bukan sebuah kebetulan. Hal ini setidaknya membuat jamaah sebelah menghormati keinginan saya dan bersedia merapatkan kakinya dengan kaki saya.

Sebelumnya jamaah sering menjauhi kaki saya mungkin karena merasa tidak nyaman dengan kaki yang saling menempel dengan jamaah lain. Atau justru tidak ingin membuat jamaah lain merasa tidak nyaman. Saya pribadi pun jika merapatkan shaf bukan keharusan saya memilih tidak merapatkannya karena memang lebih enak kalo kaki kita tidak saling menempel waktu shalat.

Menunjukkan kepada jamaah lain bisa dengan seperti yang saya lakukan (dengan gerakan tubuh) atau dengan ucapan (tapi bukan ceramah, lho!) atau dengan kombinasi keduanya. Untuk kondisi biasa saya memilih dengan gerakan tubuh saja. Tapi untuk kondisi khusus saya biasanya menambahinya dengan kata-kata. Misalnya untuk orang yang saya hormati atau lebih tua saya ucapkan “Monggo, Pak dirapatkan shafnya” atau jika dengan anak-anak atau orang yang lebih muda dan potensial ngeyel saya katakan “Ayo dik, dirapetin shaf-nya” sambil sedikit merangkul pinggang atau bahunya dan menariknya mendekat ke arah saya.

Orang Indonesia (terutama orang Jawa) yang sering nggak enakan sama orang lain biasanya akan menurut dengan kata-kata itu. Dengan apa yang saya lakukan tadi harapannya jamaah di samping saya akan memahami pentingnya mempraktekkan kelurusan dan kerapatan shaf tanpa harus diceramahi. Atau kalaupun tidak, mereka akan merapatkan shaf karena merasa sungkan atau nggak enak sama saya. Itu lebih baik daripada shaf shalatnya tidak rapat.

Nah itu sekadar pengalaman betapa pentingnya menunjukkan apa yang kita inginkan kepada orang lain. SHOW ME WHAT YOU WANT adalah sebuah prinsip fundamental dalam komunikasi yang berfungsi memastikan bahwa tujuan sebuah komunikasi itu tersampaikan. Komunikasi sendiri adalah hal vital dalam setiap jenis hubungan antarmanusia. Sebuah hubungan akan menjadi baik dan sehat jika komunikasi yang ada di dalamnya juga sehat.

Banyak kasus kerenggangan atau keretakan hubungan manusia yang berawal dari rusaknya komunikasi. Perceraian suami istri, ketegangan dalam kantor antara atasan dan bawahan atau antara sesama pegawai, ketidakharmonisan hubungan orang tua anak, dan sebagainya. Dan betapa banyak kerusakan komunikasi itu berawal dari keengganan kita untuk menunjukkan dan menyampaikan apa yang sesungguhnya kita inginkan dan kita rasakan.

Seorang istri merasa tidak dicintai suaminya karena tidak pernah mendapatkan ungkapan kasih sayang secara verbal dari suaminya yang pemalu dan kurang ekspresif. Namun, sang istri tak mau mengatakan pada suaminya tentang keinginannya agar setiap pagi suaminya “sekadar” mengucapkan “I love you” sebagai charge semangatnya untuk beraktivitas seharian. Berharap suaminya bisa tahu dengan sendirinya keinginannya itu.

Dan sayangnya sang suami bukan dukun atau pesulap yang bisa menebak apa keinginan istri tanpa diberitahu. Suaminya yang introvert itu tak pernah tahu apa yang diinginkan istrinya. Padahal Ia sebenarnya sangat ingin membahagiakan istrinya setelah merasakan bahwa akhir-akhir ini hubungan mereka agak merenggang.

Celakanya, si suami juga tidak menyampaikan kepada istrinya tentang keinginannya untuk memperbaiki hubungan mereka dengan memberikan kebahagiaan lebih kepada istrinya dengan mengabulkan permintaannya. Ia berharap istrinya nanti akan berinisiatif menyampaikan keinginannya padanya sehingga Ia bisa dengan heroik memenuhi keinginan istri tercintanya itu. Sebuah ucapan “I love you” setiap pagi tentu saja tidak berat bagi sang suami, ANDAI SAJA IA TAHU.

Lengkap sudah, saling berdiam diri seperti ini bisa saja membawa pernikahan mereka pada kehancuran. Istri merasa suaminya sudah tidak sayang lagi bahkan mempunyai wanita lain di luar rumah karena tak sekalipun mengungkapkan rasa cintanya padanya. Sementara sang suami merasa tidak dipedulikan lagi oleh istrinya karena bahkan istrinya sudah enggan meminta kepadanya. Menyedihkan.

Hubungan orangtua dan anak sama saja. Banyak anak terjebak mengikuti pilihan orang tuanya soal studi, jodoh, atau apapun dengan membunuh keinginan pribadinya karena Ia tak pernah berani menyampaikan pada orangtuanya apa yang sebenarnya ia inginkan, sehingga hal itu bisa didiskusikan dengan orangtuanya. Demikian juga dengan hubungan persahabatan, hubungan dengan tetangga, orangtua dan anak, hubungan kerja, dan berbagai hubungan lainnya.

Panjang jika di bahas satu persatu mengenai pentingnya menunjukkan apa yang kita inginkan dan kita rasakan pada orang-orang di sekitar kita. Tapi satu hal yang pasti, mulai dari sekarang kita harus belajar untuk lebih terbuka karena ini adalah sebuah kebiasaan yang perlu dilatih. Orang yang terbiasa tertutup dan tak pernah mengungkapkan keinginan dan perasaannya akan seterusnya cenderung seperti itu sampai dia benar-benar mengupayakan untuk berubah.

Saya sendiri juga terlahir dengan kecenderungan seorang melankolis yang introvert. Jarang sekali mengungkapkan keinginan dan emosi secara langsung serta cenderung penjadi seorang pemendam perasaan. Dan saya sadar sepenuhnya bahwa saya harus mulai berbenah.

Sekarang saya sedang berusaha untuk lebih ekspresif mengungkapkan setiap perasaan yang saya rasakan. Jika saya memiliki suatu keinginan kepada seseorang, saya berusaha untuk menyampaikannya. Prinsip ini memang memerlukan keberanian sekaligus kerendahan hati. Tapi jika diterapkan secara tepat hal ini akan benar-benar meningkatkan kualitas hubungan kita dengan orang lain. Sikap terbuka ini dalam banyak hal juga membuat saya lebih lega karena tidak ada perasaan atau keinginan yang dipendam dalam hati.

Tentu sikap ekspresif ini tidak bisa digeneralisir untuk semua kasus. Karena ada hal-hal tertentu dimana kondisi memang mewajibkan kita untuk tidak mengekspresikan perasaan kita. Nah, adalah kebijaksanaan kita untuk mengenali kondisi-kondisi itu dengan terus berlatih berkomunikasi dan berinteraksi dengan berbagai macam orang. Yang menjadi penting di sini adalah memahami agar jangan sampai kita memendam perasaan dan keinginan di saat seharusnya kita menyampaikannya. Jangan sampai malapetaka hadir dalam kehidupan kita hanya karena kita malu atau gengsi menyatakan perasaan dan keinginan kita.

Allahu a’lam
Semoga bermanfaat. ^^9

kisah kita tak akan berakhir bahagia, jika kita tak bisa saling terbuka
karena aku tak mungkin dapat selalu membaca, apa makna yang tersirat di wajahmu
The Rain-Tersirat di Wajahmu

Purwokerto, 9 Januari 2012
www.adityasaja.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar