Sepetak Waktu di Sepenggal Usia
: elegi
“Tidak
akan tergelincir dua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia
ditanya tentang empat perkara: tentang usianya untuk apa ia habiskan,
masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia peroleh dan
kemana ia belanjakan, dan tentang ilmunya apa yang diperbuatkan dengan
ilmunya tersebut”
(HR. Al-Bazzar dan Al-Thabrani).
Bismillahirrahmanirrahim
Senja
itu, masih selalu saja terkenang dalam ingatan, sebuah senja yang
tenang dengan bau segar rerumputan. Di hadapan sebuah kolam dengan
hamparan teratai bermekaran, beberapa pemuda dengan gagah berlarian;
tergopoh-gopoh membawa tas penuh makanan; kemudian duduk dan membentuk
sebuah lingkaran.
Pada sebuah tanah lapang yang melandai,
di kaki perbukitan yang ramai oleh kabut, hawa sejuk, dan sesekali,
rintik gerimis pembawa harapan, serta gumpal awan yang menahankan sebuah
kerinduan, tawa sesekali terdengar berderai dari lidah mereka yang
sesekali berceloteh, berbagi makanan. Tenda-tenda nampak rapih
didirikan. Kemudian sebuah antrian tercipta menghadirkan sebuah
pemandangan yang menenangkan luar biasa, tentang insan-insan yang
mematutkan pada wajah mereka cahaya-cahaya, yang terpancar dari basuhan
air wudhu, dan keinginan untuk bersujud dihadapan Rabb yang selalu
memberi mereka Rezeki dan Kebaikan tiada habisnya. Rabb Yang menciptakan
barisan gunung-gunung yang bertasbih, langit yang meluas, dan semesta
kasih. Rabb Yang, tanda-tandanya selalu terasa oleh mereka yang hatinya
tulus dan bersih.
Tibalah waktunya muda-mudi itu berbaris
rapih, duduk membentuk shaf-shaf yang membuat malaikat manapun cemburu
lirih; betapa tidak? Disaat belia seusia mereka menghabiskan waktu
berbelanja di mal-mal dan tempat hiburan, atau menghabiskan waktu
mendengarkan nyanyian, tertawa karena permainan-permainan, sekelompok
muda-mudi ini ber
taqarub, mendekatkan diri mereka pada Allah dengan mentafakuri ayat-ayat ciptaanNya. Kemudian bersabar mengejar ilmuNya.
Pantaslah jika pada saat itu, saya terkenang pada sebuah hadits tentang hari akhir, yang di
takhrij oleh
Imam Al-Bazzar dan At-Thabrani, dari Mu'adz Ibn Jabal R.A, bahwa
Rasulullah SAW yang lidahnya selalu jujur dan tak pernah sekalipun
berdusta, berkata bahwa pada hari akhir nanti, anak-anak Adam ini tidak
akan beranjak dari hadapan Rabbnya, kecuali setelah ditanya kepadanya
tentang 4 perkara; tentang usianya, masa mudanya, hartanya, dan ilmunya.
Di
Gunung Salak, pada senja itu, pada kesempatan LDKR Runners SMKN 26
Jakarta, kami berdiskusi dan berbagi, diselingi dengan
permaian-permainan menyenangkan yang bisa diamblikan ibrahnya, dibahas
tentang bagaimana hadist diatas bisa menjadi sebuah motivasi untuk
menghargai usia dan rezeki, dengan senantiasa mengejar ridha dan
menyebar kebaikan dari Rabb Yang Maha Memberi.
“Tidak
akan tergelincir dua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia
ditanya tentang empat perkara: tentang usianya untuk apa ia habiskan,
masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia peroleh dan
kemana ia belanjakan, dan tentang ilmunya apa yang diperbuatkan
dengan ilmunya tersebut”
(HR. Al-Bazzar dan Al-Thabrani).
Pada
hari itu, diingatkan bahwa, hidup ini adalah sebuah ujian, ujian untuk
sebuah keabadian [1], dimana hanya akan ada dua pilihan; kebahagiaan
berkekalan, atau kesengsaraan tiada terperi.
Di akhir
ujian itu, setelah bumi diguncangkan, dan manusia-manusia yang telah
mati dibangkitkan, Rabb akan hadir dan malaikat berbaris-barisan,
neraka akan ditampakkan; dan manusia-manusia ketakutan dan akan
menyesal karena tidak pernah bersungguh-sungguh saat mengejar kebaikan.
[2]
Pada detik-detik yang menegangkan tersebut, di
hadapan semesta dan penduduk langit maupun bumi, semua hadir sejak awal
generasi, akan ditanyakan pada kita tentang empat perkara itu, empat
perkara itu! Empat perkara yang kita akan malu karena tidak pernah kita
manfaatkan dengan lebih baik. Empat perkara yang karenanya tidak akan
berhenti tangis kita, karena menahan sesal dan rasa malu yang luar
biasa. Empat perkara yang adalah Usia, Masa Muda, Harta, dan Ilmu kita.
1. Usia
Apa yang telah kita lakukan sejak kelahiran kita? Apa yang telah kita berikan kepada mereka yang menjadi tanggung jawab kita?
Anak-anak
kelaparan yang meminta-minta di sepanjang perempatan yang bisa kita
temukan di sekitar Jakarta. Pengamen-pengamen di Galur, atau keluarga
gerobak yang tidak se-beruntung kita yang selalu memiliki
sahabat-sahabat yang baik, pendidikan yang layak, dan juga tempat
bernaung? Tidakkah kita mensyukuri usia kita yang telah Allah penuhi
dengan serba kecukupan? Tidakkah kita ingat bahwa kita di atas bumi ini
adalah
khalifah, manajer yang bertanggung jawab atas kesejahteraan dan keselamatan seluruh penghuninya? [3]
Apa yang akan kita jawab di hadapan Rabb kita dan para malaikatnya nanti? Serta barisan manusia yang menanti di belakang kita?
Sanggupkah
jika kita harus berkata, "Usia hamba, sejak hamba lahir hingga Engkau
cabut nyawa hamba pada saat mati, hanya hamba pergunakan memikirkan
kepentingan diri sendiri.
Hamba mematut-matut diri di
hadapan cermin selama berjam-jam tanpa memikirkan tetangga-tetangga
hamba yang belum memiliki pakaian. Hamba mengejar karir dan capaian
tanpa memikirkan tetangga-tetangga hamba yang masih kelaparan. Hamba
menolak menyisihkan usia hamba untuk mentafakuri dosa-dosa dan
pengkhianatan yang setiap hari hamba lakukan di hadapMu yaa Rabb. Bahkan
hamba abai terhadap misteri-misteri kehidupan yang sebenarnya tercatat
dengan rapih pada ayat-ayatMu. Hamba menghabiskan usia hamba untuk
menghinakan diri hamba dengan mengkhianatiMu."
Ah,
terbayangkan tangis yang berderai sebab betapa malunya kita jika kelak
harus mengatakan yang seperti itu, na'udzubillah min dzalika.
2. Masa Muda
“Ada
tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang
tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Pemimpin yang adil. Pemuda yang menyibukkan diri dengan ibadah kepada Rabbnya.
Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid. Dua orang yang saling
mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah
kecuali karena Allah. Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita
yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut
kepada Allah’. Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga
tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan
kanannya. Orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga
kedua matanya basah karena menangis.”(HR. Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712)
Masa
muda menjadi sorotan tersendiri dalam islam dan ajarannya, terbukti
ketika, meskipun Allah swt telah bertanya kepada anak-anak Adam tentang
usianya, Allah masih juga secara khusus menanyakan tentang masa muda.
Hal ini dapat kita pahami dengan mudah melihat adanya potensi yang luar
biasa dari masa muda. Pada masa inilah seorang muslim dan manusia
manapun yang ada di dunia, membentuk karakter dan jati dirinya. Akan
sulit bagi seseorang yang terbiasa bermalas-malasan pada usia mudanya,
untuk menjadi pekerja keras ketika mereka tua. Juga tidak mudah bagi
mereka yang terbiasa bekerja keras dan belajar pada masa muda, jika
harus menjadi seorang pemalas yang kehilangan ghairah pada masa tua.
Masa
muda, bisa dibilang, adalah sepenggal usia dalam sebuah perjalanan
kehidupan setiap manusia yang, nyaris menentukan segalanya.
Bersahabatlah kita pada masa muda dengan orang-orang yang tidak dapat
memberikan manfaat dunia akhirat bagi kita, mungkin setidaknya kita
dapat bertahan untuk tidak terjerumus pada keburukan, tapi kelak kita
akan menyesal karena seharusnya dapat mengumpulkan modal kebaikan lebih
banyak untuk kita bagi-bagikan.
Berleha-lehalah kita pada
masa muda dengan kesenangan-kesenangan, mungkin kelak kita masih akan
mampu menghadirkan kesenangan yang sama pada masa tua, tapi bisa jadi
kita akan terjebak pada pertanyaan-pertanyaan tentang tujuan hidup dan
kebingungan akan makna kebahagiaan yang sejati. Ya, kesenangan tidak
akan pernah dapat memuaskan jiwa manusia, yang manusia cari adalah
ketenangan, dan bekerja keras mencari makna kebahagiaan pada masa muda,
dapat membantu menghadirkan ketenangan tersebut.
Sebuah
perbedaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus dalam jangka waktu
yang cukup lama, selalu menghadirkan perbedaan-perbedaan besar. Bijak
adalah berhati-hati dan selalu mengevaluasi apa yang kita lakukan pada
masa muda kita. Tidak perlu dijalani dengan terlalu kaku, sesekali
refreshment dan istirahat juga diperlukan. Tapi ingatlah untuk selalu
memaksimalkan manfaat, sebab selain itu berpengaruh pada masa depan kita
serta masa depan ummat, ternyata masa muda kita juga kelak akan
dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT.
3. Harta
Dari
mana kita dapatkan harta kita? Dari sumber-sumber pendapatan yang halal
kah? Atau kita mendapatkan harta kita tanpa memperhatikan apakah Allah
akan ridha atau tidak?
Pada proses pencarian pendapatan,
adakah tercampur di dalamnya maksiat? Adakah pernah kita menyakiti
perasaan saudara kita atas amanah yang tidak kita tuntaskan dengan baik
dalam pekerjaan, atau sikut kiri sikut kanan hanya untuk mencari muka,
posisi dan jabatan? Adakah tanpa sengaja kita mengundang kecemburuan
Allah dengan interaksi yang berlebihan dengan rekan kerja non mahram?
Atau lalai mengingatNya karena sibuk meraup rezeki? Naudzubillah min
dzalika.
Lebih jauh lagi, untuk apa kita pergunakan harta
kita? Adakah untuk kesenangan sesaat, atau kita pergunakan untuk
menolong agama Allah dan mensucikan diri kita? Berusaha menjadikan diri
kita orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Al-Qur'an agar termasuk
kedalam golongan mereka yang selalu bertaqwa? [4]
Adakah
terfikirkan dalam cita-cita kita untuk menjadi seperti Abdurrahman Ibn
Auf, yang bergelimang harta yang berkah dan disedekahkan demi
pembangunan dan kesejahteraan Madinah?
Adakah terbersit
dalam hati kita bahwa usia ini akan diinfakkan untuk Jihad di JalanNya
dengan cara memanfaatkan masa muda mengumpulkan keahlian yang kelak
dapat digunakan untuk mengumpulkan harta yang dapat kita pergunakan
mendirikan pesantren-pesantren modern? Dimana anak-anak yang kurang
beruntung dapat mempelajari Arsitektur, Tata Kota, Ilmu pemerintahan,
Sastra, Teknologi; agar kelak mereka menjadi sumber daya manusia yang
turut membangun kembali Jakarta yang mulai nampak tua dan lelah oleh
amarah yang hadir dari kemacetan juga kemiskinan?
Apa yang
akan kita jawab dihadapan Rabb kita nanti ketika Dia bertanya tentang
harta kita? Semoga kita akan mampu memberi jawaban yang baik. Jangan
sampai kita menanggung malu nanti, na'udzubillah min dzalika.
4. Ilmu
Ilmu
yang kita dapati, dipergunakan untuk apakah ia? Adakah ia kita jadikan
koleksi dan kita hamburkan untuk caci maki kepada mereka yang kita
anggap tidak lebih berilmu daripada kita? Ataukah kita jadikan senjata
yang menguatkan kasih sayang dan perhatian yang kita miliki kepada
mereka yang terlantar dan kelaparan? Hadir dan menjelma api yang
menghangatkan mereka yang sehari-hari menggigil dan kedinginan?
Dijadikan tetes-tetes air jernih oleh kerongkongan mereka yang
sehari-hari kehausan?
Bukankah kita ini hamba-hamba
Ar-Rahman? Yang kasihnya menyemestakan ampunan? Bukankah kita mengasihi
saudara-saudara kita sebagaimana kita mengasihi diri kita sendiri?
Bukankah kita mencintai Rasulullah yang bahkan di penghujung hayatnya
sekalipun, masih saja memikirkan ummat yang dikasihinya?
Tidakkah
kita ingin menyunggingkan senyum di bibir Rasulullah yang kita
rindukan, berbincang-bincang dengannya di selasar-selasar puncak
tertinggi Jannah, membicarakan betapa ilmu yang beliau wariskan telah
berhasil kita jadikan tonggak yang menegakkan peradaban? Dengan izin
Allah, kita telah membangun perusahaan-perusahaan yang membuka banyak
sekali lapangan pekerjaan, membebaskan lahan-lahan pertanian untuk
digunakan memenuhi kebutuhan pangan, menstabilkan harga makanan?
Mendidik anak-anak dari mereka yang tadinya kelaparan sehingga mampu
memikirkan cara-cara memenuhi kebutuhan?
Tidakkah kita
ingin di hadapan Mizan, kelak, ketika Allah menanyakan tentang ilmu
kita, kita mampu bersitatap manja, dengan perasaan bangga, di hadapan
Rabb kita, dengan mengatakan bahwa ilmu titipanNya telah kita pergunakan
untuk membuktikan kepadaNya, bahwa kita adalah hambaNya, hamba dari
yang Maha Cinta kepada hambaNya?
“Tidak
akan tergelincir dua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia
ditanya tentang empat perkara: tentang usianya untuk apa ia habiskan,
masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia peroleh
dan kemana ia belanjakan, dan tentang ilmunya apa yang diperbuatkan
dengan ilmunya tersebut”
(HR. Al-Bazzar dan Al-Thabrani).
Bersamaan
dengan berakhirnya diskusi, senja hari itu pun turun, tergantikan malam
yang terhadir anggun. Luruh bersama kerak-kerak kesombongan,
tergantikan telaga-telaga penyesalan.
Kami, muda-mudi
Runners saat itu, diam-diam menanamkan tekad dalam dada, berazzam
dihadap Rabbuna, berdo'a, semoga ketika hadir pertanyaan serupa, kami
telah melewati segalanya dengan hanya mengejar ridhaanNya, sehingga
mampu hati kami bersaksi, "
Radhitu billahi Rabba, wa bil islami diena, wa bimuhammadiwwarasula."
Semoga kelak, Rabb kemudian akan berkata, "Wahai jiwa yang tenang.
Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka
masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu. Dan masuklah ke dalam
surgaKu." [5]
Betapa senja itu, adalah sepetak waktu di sepenggal usia, yang semoga tak pernah terlupa.
- Gunung Salak, Fathan Mubina. Muharram-Safar 1433
Catatan:
[1]. Q.S Al-Mulk (67:2)
[2]. Q.S Al-Fajr (89:21-24)
[3]. Q.S Al-Baqarah (2:31)
[4]. Q.S Al-Baqarah (2:1-3)
[5]. Q.S Al-Fajr (89:26-30)
welcoming spring .