Jumat, 12 Oktober 2012

“Inilah Jawaban Muslim untuk film “Innocence of Muslim” yang menghina Rasulullah!!!




Aku adalah Muslim, aku bangga menjadi Muslim, karena sejarah membuktikan ..
Bukan Muslim yang memulai perang dunia pertama.
Bukan Muslim yang memulai perang dunia kedua.
Bukan Muslim yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki dengan menggunakan bom atom.
Bukan Muslim yang membunuh 200 juta Indian Amerika utara.
Bukan Muslim yang menghabisi 80 juta Indian Amerika Selatan .
Bukan Muslim yang membunuh 90 juta Aborigin Australia.
Bukan Muslim yang mengambil 180 juta orang Afrika sebagai budak lalu membuang 70% dari mereka yang meninggal ke laut Atlantik.
Bukan Muslim yang menjajah Indonesia, Bosnia, Afganistan, Ethiopia, Checnya, Suriah dan Negara-negara lainnya…
Bukan Muslim yang memulai kasus poso, ambon, Maluku, dan papua.
Bukan Muslim yang memfitnah Irak dengan senjata pemusnah massal yang ternyata Cuma isapan jempol belaka.
Bukan Muslim yang serakah merebut ladang Minyak Timur Tengah.
Bukan Muslim yang suka menghina nabi dan agama lain.
Dan Aku BANGGA…..
Walau Islam tidak pernah teriak-teriak sebagai agamai damai, tapi Muslim tidak pernah menyerang siapa-siapa.
Walau Islam tidak pernah teriak-teriak HAM & toleransi, tapi Muslim paling toleransi dibanding “PENDEKAR HAM” Amerika yang rasis kepada kulit hitam, disbanding Perancis yang melarang jilbab, dibanding Swedia yang melarang Adzan, disbanding Swiss yang melarang pendirian Masjid. Muslim mayoritas itu toleransi, Muslim minoritas itu PEMBERANI. Tapi tidak ada toleransi untuk melanggar perintah ALLAH SWT.
Muslim bukan anjing serakah dengan nafsu menjajah.
Muslim bukan babi yang rakus nafsu membumi hangus.
Muslim bukan monyet licik yang selalu menebarkan fitnah.
Muslim tidak pernah mencari musuh & Muslim Haram lari dari yang memusuhi….
Lalu apa yang bias kita lkukan dengan ketidakadilan yang dilakukan oleh mereka yang membenci agama Islam?
Pertama dan utama tanamkanlah kepada anak cucu kita. Itulah mereka…..
Perkataan sangat jauh dengan perbuatan. Bukan menanamkan kebencian namun ini fakta dan realita hidup di depan mata.  Bahawa keadilan itu sangat jauh dari harapan.
Sehingga sangat wajar bagi sekelompok orang dengan pemahaman agama yang sempurna, memaknai ini sebagai ajakan berperang ! tapi, melawan dengan apa? Senjata mereka punya. Pengaruh sangat kuat.
Media mereka kuasai. Di tiap Negara punya informan yang akurat. Dan aparat yang tiarap manggut pada keinginan Barat. Jangan salahkan mereka !
Jika perlawanan diberikan dengan pengorbanan diri. Meskipun mereka menyebutnya “teroris”. Bisa jadi bentuk seperti itu bisa mereka berikan sebagai  kecintaan kepada  Allah dan Rasul-Nya.
Lalu apa peranan yang harus kita lakukan ?
Kalau tidak berani dengan tindakan dan ucapan, serta melawan musuh Allah. Minimal doa  membenci akan kedzaliman yang mereka lakukan…. Dan yang lebih penting, tanamkan tauhid kepada  anak-anak kita. Ingat, bahwa mereka sudah bisa merasuki keluarag kita melalui berbagai cara seperti ; TV, media cetak, internet, hiburan, dll.
Kalau  tidak dipagari dari sekarang, mereka tidakakan pernah menyesal jika agama yang mulia dihina oleh orang lain. Jika  seperti ini adanya. Apa yang bisa dibanggakan dihadapan Allah kelak ?
Berikan mereka pengertian dengan bijak dan antusiasme, sehingga mereka paham akan hak dan kewajibannya. Jika kesulitan…? MUROBBI di Pusat Kotemporer bisa jadi solusi…..
Semoga bermanfaat.
Wassalam .
Created by: H. Jaja Senjaya, MA.M.Pdi   

Kamis, 24 Mei 2012

Subhanallah, Bayi Ini Lahir Membawa Alquran


Subhanallah, Bayi Ini Lahir Membawa Alquran
Abdul Wahab Iyanda Aderemi Irawo, bayi yang lahir membawa Alquran dari rahim ibunya.
REPUBLIKA.CO.ID, NIGERIA -- Allah SWT tak pernah berhenti menunjukkan kuasa-Nya. Seorang bayi di Nigeria lahir sembari membawa Alquran dari rahim ibunya. Sejatinya, ibu bayi tersebut beragama Kristen, tapi pascamelihat mukjizat Allah tersebut, sang ibu dan nenek bayi tersebut langsung mengucapkan dua kalimat syahadat dan menyatakan diri masuk Islam.

Seperti diberitakan harian Pmnewsnigeria, Senin (14/5) kemarin, bayi tersebut lahir di 112 Olateju Street, Mushin, Lagos State, Nigeria Barat Daya pada 7 Mei 2012 lalu. Saat keluar dari rahim ibundanya, bayi tersebut membawa sebuah Mushaf kecil di tangannya.

Kikelomo Ilori, nama ibu bayi tersebut. Wanita 32 tahun yang bekerja sebagai seorang ahli kecantikan langsung mengganti namanya menjadi Sherifat ketika masuk Islam. Hal itu diikuti nenek bayi tersebut yang mengganti namanya menjadi nama Islam.

Kelahiran bayi tersebut pun menyedot perhatian para ulama di negara benua hitam tersebut. Para ulama di Nigeria berkumpul untuk memberikan nama kepada bayi tersebut. Setelah menyampaikan ceramah singkat, seorang ulama Nigeria, Ustad Abdul Rahman Olanrewaju Ahmed, memberikan nama kepada bayi tersebut Abdul Wahab Iyanda Aderemi Irawo.

Untuk menghindari syirik dan kesesatan, Ustad Abdul Rahman juga menasihati sang ibu bila bayinya bukanlah seorang nabi, meskipun ia terlahir dari rahimnya sambil memegang Alquran. Menurutnya, kejadian itu merupakan kehendak Allah, untuk mengirim bayi tersebut ke dunia dengan cara yang menakjubkan.

Dalam acara pemberian nama itu, turut hadir ulama setempat, Sheikh Abdulraman Sulaiman Adangba, Ketua Nasrulifathi Society of Nigeria, NASFAT, Ustadz Alhaji Abdullahi Akinbode, dan Dr Ramoni Tijani dari Alifathiaquareeb Islamic Society of Nigeria.

Kelahiran sang bayi pun memberi berkah bagi tetangga sekampung. Pedagang tumpah ruah menjual berbagai souvenir terkait bayi tersebut, mulai dari kaos, tasbih, dan foto bayi tersebut.

Tak heran bila kelahiran bayi tersebut dianggap kontroversi sebagian pihak. Sebagian pihak berkata mustahil, tapi sebagian lainnya menganggap kejadian tersebut adalah kuasa Tuhan, dimana tak ada yang mustahil bagi-Nya.

Bahkan, seorang dokter dipecat gara-gara mengatakan kejadian tersebut adalah hoax alias berita bohong. Padahal saksi, media dan ibunya sendiri menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.
Redaktur: Karta Raharja Ucu
Sumber: pmnewsnigeria.com

Rabu, 14 Maret 2012

Kajian Muslimah Masjid Baitul Ihsan Jakarta



 
 
Share
Kajian Muslimah Daarut Tauhiid Jakarta
Kajian Muslimah Daarut Tauhiid Jakarta
Beristirahat sejenak dari segala rutinitas pekerjaan, kewajiban rumah tangga. Untuk kembali mengoptimalkan diri demi kebaikan diri sendiri. Untuk keluarga,
masyarakat dan orang lain.

Kajian Muslimah Daarut Tauhiid Jakarta diawali dari sekitar tahun 2000 dan masih berlangsung hingga saat ini. Pembukaannya diresmikan langsung oleh teh Ninih Muthmainnah. Sekaligus menjadi pembimbing dan pemateri, selain itu saat ini ada Bunda Ningrum Maurice dan tim assatidzah Daarut Tauhiid Jakarta. Tujuan diadakan Kajian Muslimah, adalah sebagai lembaga pelatihan, konsultasi muslimah supaya dapat memiliki akhlak yang mulia, jiwa kepemimpinan, mandiri, dan wirausaha melalui pengamalan nilai-nilai Manajemen Qolbu.
Jenis kegiatannya diantaranya: Kajian Muslimah (Kamus) sabtu pagi, Kamus Al-Azhar (sudah tidak aktif), Kamus BI (Bank Indonesia), Kamus Elnusa (sudah tidak aktif), pelatihan sholat khusyu, kunjungan sosial, Malam Muhasabah Muslimah Rindu Ilahi (Mamuri) yang insya Allah rutin dilaksanakan 2 bulan sekali di Masjid Pondok Indah atau di Masjid Bank Indonesia.

Visi dan Misinya adalah:
Menjadi lembaga pendidikan, pelatihan, pembinaan, dan konsultasi.
Mengembangkan, memaksimalkan potensi muslimah sehingga memiliki jiwa pemimpin, mandiri, dan wirausaha.
Mengangkat citra muslimah sebagai sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu menjalankan fitrahnya secara benar menurut al-Quran dan hadits.
Jamaah yang mengikuti Kajian Muslimah mengakui sendiri mereka mendapatkan pencerahan dan hikmah luar biasa dan menambah pengetahuan mereka sehingga dapat memperbaiki diri ke arah yang lebih baik lagi. Bagi sahabat muslimah yang ingin mengikuti kegiatan-kegiatan muslimah DT Jakarta silahkan saja langsung datang ke acara tersebut. Jadwal kegiatan terdapat di Menu Agenda atau dengan menelpon langsung ke sekretariat Daarut Tauhiid Jakarta. Kegiatan-kegiatan DT Jakarta terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya, kecuali untuk kegiatan-kegiatan tertentu. Silahkan sahabat bergabung bersama kami untuk merasakan nikmatnya menimba ilmu dan mencari ridha Allah swt. Untuk silaturahim dan taaruf lebih dekat dengan Kajian Muslimah DT Jakarta bisa menghubungi teh Syasya di 021-92223167.

Sanggar Qur'an


INFO KAJIAN ISLAM

NIKMATILAH KAJIAN ISLAM DI YAYASAN SANGGAR AL-QUR’AN, JL. MARDANI RAYA NO 5. JAKARTA PUSAT
(GRATIS & TERBUKA UNTUK UMUM)

  1. KAJIAN HADITS (KITAB RIYADLUSHALIHIN) dengan MUWAJJIH DR. AGUS SETIAWAN, MA. setiap sabtu, jam 8.30-11.00
  2. KAJIAN FIQH SUNNAH – (KITAB FIQH SUNNAH SYEKH SAYYID SABIQ) di asuh oleh Ust. ITANG RUSMANA, LC, Setiap senin malam jam 19.30-21.00
  3. KAJIAN NAHWU SHARAF, Setiap sabtu, jam 16.00-17.30

 “Barang siapa yang keluar mencari ilmu, maka ia ada fi sabilillah (berjuang)”

CONTAC PERSON
1- DADI RAMDAN: (0815-14277990)
2- H. NASIR (021-32711766)
3- HERI KURNIAWAN (0812-9534809)

Selasa, 07 Februari 2012

Perempuan Sempurna

oleh Isma Choirunnisa pada 24 Januari 2012 pukul 10:47
Perempuan Sempurna

Jadi mahasiswi, itu biasa.
Menikah dan membina keluarga di usia muda, itu pun biasa.
Namun menikah di usia muda, lalu membina keluarga sambil tetap menjalankan tugas sebagai mahasiswi, wah itu baru luar biasa!

Adalah Hani Noor Ilahi dan Rachmi Nurhanifah, dua sahabatku di Jurnal, yang cerdas luar biasa. Sejak pertama mengenal mereka, aku yakin, mereka akan selalu jadi shining star, di manapun dan apapun yang mereka lakukan. Nggak cuma cerdas, sikap mereka juga selalu lebih tenang dan dewasa daripada aku.

Hani aktivis dakwah kampus, dia juga aktif di Badan Perwakilan Mahasiswa Unpad, suka orasi, jago memanah, orang tuanya aktif di kancah politik. Ami, she is a seeker, just like me. Dia akan baca semua buku, ikuti semua diskusi, dan dengarkan opini semua orang. Ami ngambil double degree, pendidikan bahasa Inggris di UPI (Gegerkalong) dan Jurnalistik Fikom Unpad (Jatinangor). Jauh ya boo...

Aku sama sekali nggak mengira bahwa kedua sahabatku yang lagi bersinar-sinarnya itu, kemudian memutuskan untuk menikah di usia muda. Hani menikah pada Agustus 2009, saat itu kami masih semester 5. Kemudian Ami menyusul di awal 2010. Jujur aja, aku memang termasuk cewek yang (dulu masih) berpikiran, ketika kamu menikah, kamu nggak akan sebebas dulu. Jadi aku kaget, khawatir, ngerasa kehilangan, saat mereka memutuskan menikah. Aku nggak mau kalau nanti setelah menikah apalagi punya anak, Hani dan Ami akan mengurangi porsi aktivitas mereka sebagai orang muda, sebagai mahasiswi. Aku nggak mau pendar mereka meredup.

Tapi kemudian, Hani yang terlebih dulu membuktikan bahwa aku salah. Selama hamil, Hani membuktikan ia nggak sedikitpun mengabaikan kuliahnya. Paling sekali-dua kali izin di kuliah pagi, karena morning sickness di trimester pertama. Semakin kehamilannya membesar, Hani makin rajin kuliah. Malah kami yang suka cemas kalau lihat Hani kuliah dari pagi sampe sore, naik tangga pelan-pelan ke lantai tiga.. waduh! Dan tentu saja, kami juga jadi saksi betapa aktifnya si jabang bayi. Pernah, Hani lagi presentasi di depan kelas, eh trus si bayi aktif banget sampe perutnya Hani ikut bergerak-gerak. Kontan kami satu kelas ketawa seneng, ternyata si bayi seneng diajak kuliah!

Kami kuliah di jurusan jurnalistik, maka tugas-tugas kuliah kami nggak jauh dari liputan dan wawancara. Hani nggak pernah melewatkan itu. Saat hamil 8 bulan, dia masih meliput demonstrasi Hari Buruh Dunia di depan Gedung Sate siang-siang bolong. Wara-wiri dengan kamera dan tripod plus perut besarnya, kami cuma bisa teriak-teriak cemas. Suatu hari kami harus liputan ke Jakarta, dan Hani pun sangat bersemangat menelusuri belantara Jakarta. Ya, naik bus! Kopaja! Kami selalu cemas, tapi Hani selalu bilang “Kalo aku kuat, bayiku juga jadi kuat.”

Juni 2010, Fathan Syamil Al-Kautsar lahir dengan normal. Kami, Jurnal 2007 menyambut bahagia kelahiran jagoan jurnal, keponakan pertama kami ini. Hani bener, dia ga pernah manja selama hamil, makanya pas melahirkan pun prosesnya mudah. Seminggu setelah melahirkan, Hani langsung ikut UAS! Ya ampun, bukannya minta tugas pengganti, dia malah dateng ke kampus! Han, han...

Punya anak, pun tidak menghalangi kuliahnya. Ia membawa Fathan ke kampus, lalu dititipkan ke penitipan anak di Fakultas Ilmu Keperawatan. Si Fathan jadi objek pengamatan para mahasiswi FIK, hahaha! Hani juga jadi sangat terlatih menulis dan mengetik pake satu tangan, karena tangan yang satunya sambil gendong atau pegangin Fathan.


Seringkali, tanpa diminta, kami dengan senang hati babysitting si Fathan. Atau bergantian ngejagain dia yang diboboin di kursi perpus sementara Bundanya ngetik skripsi. Sekarang Hani udah sampe Bab 3, jauh mendahului aku. Hebat kan? Dia punya semangat dan motivasi lebih untuk lekas menyelesaikan kuliah, tak lain demi suami dan Fathan-nya.



Pertengahan 2011, Ami dinyatakan positif hamil. Wah padahal kuliah lagi padat-padatnya tuh waktu itu. Trimester pertama dan kedua Ami lalui dengan penuh perjuangan, ia mengalami hiperemesis. Atau bisa dibilang, morning sickness-nya parah. Bahkan nggak cuma morning, tapi hampir sepanjang hari Ami muntah-muntah, nggak ada makanan yang bisa masuk. Dia harus melewati masa-masa sulit dengan tiga kali keluar-masuk rumah sakit. Sampai-sampai berat badannya turun drastis hingga 38 kg (tapi emang dia asalnya orangnya imut sih).

Namun syukurlah, setelah melewati bulan ketujuh, kandungannya semakin kuat. Ami pun bersemangat lagi menata kuliahnya yang sempat ketinggalan. Dia sekarang lebih memfokuskan untuk menyelesaikan studinya di UPI, karena yang di Unpad sudah tinggal job training dan skripsi saja. Sahabatku yang satu ini, meski bisa dibilang punya kesibukan dan tugas yang lebih daripada kami mahasiswa biasa (yang nggak ambil double degree), aku nggak sekalipun mendengar Ami mengeluh. Dia menjalani semuanya dengan santai. Begitupun saat tengah hamil. Ami tetap rajin ke kampus. Dia naik tangga ke kelasnya di lantai 5, sekalian olahraga. “Kemarin-kemarin kan Ami sakit, tiduran terus Ken. Makanya sekarang mumpung udah sehat Ami harus banyak bergerak biar bayinya juga kuat,” katanya. Suaminya, Mas Darta, yang juga masih berstatus sebagai mahasiswa STSI, mendukung penuh aktivitas Ami. Ia nggak pernah melarang dan membatasi, melainkan melindungi. Begitulah seharusnya suami membiarkan istrinya jadi diri sendiri.


Aku suka nemenin Ami di rumahnya. Beli es krim, beli bakso, ngemil coklat, jalan-jalan di sekitaran Jalan Aceh-Jalan Halmahera-GOR Saparua sampe ke Tobucil. Pokoknya hidup sama ibu hamil enak deh, ngemil melulu! Hehehe... Terakhir, berat Ami udah naik jadi 53 kg. Bok, berat gue aja 55 kg ya, dan gue tidak sedang hamil. Ami sedang menunggu mules minggu-minggu ini. Bayinya diprediksi akan lahir awal Desember, wow, betapa bahagianya dia! Makin hari terlihat makin segar dan bersemangat.


Tentu butuh perencanaan, manajemen waktu, tenaga, pikiran, dan mood yang lebih stabil untuk menjadi mahasiswi sekaligus (calon) ibu. Saat hamil, kamu akan mengalami banyak perubahan fisik yang tak jarang memicu permasalahan psikis. Tapi kamu nggak boleh egois, kamu harus pikirkan, bahwa saat ini kamu tidak hidup untuk dirimu sendiri, melainkan ada si utun (jabang bayi) yang hidupnya juga tergantung padamu. Ada kalanya kamu nggak nafsu makan, atau males makan karena takut tambah gendut, tapi kamu harus memikirkan si bayi. Ada kalanya kamu maleeeeesss banget bergerak dan berolahraga, pengennya tiduran terus, tapi kamu juga harus memikirkan dampaknya buat kandunganmu dan proses kelahiran kelak.

Itulah yang namanya seorang ibu. Aku teringat apa yang pernah dikatakan Hani waktu sedang mengandung Fathan, “Sebentar lagi aku jadi perempuan sempurna, Ken. Sudah jadi istri, sebentar lagi jadi ibu...”

Dalam hidup, tidak ada yang namanya pengorbanan. Yang ada hanyalah pilihan. Kalau kamu mengorbankan sesuatu demi suatu hal yang lain, berarti kamu menyesali apa yang kamu tinggalkan. Namun ketika kamu memilih sesuatu, berarti kamu bersiap menghadapi tantangan apapun yang akan ada di jalan yang kamu pilih itu.

Hani dan Ami, kedua sahabatku itu memilih untuk menikah, meski masih berstatus sebagai mahasiswi. Tentu bukan keputusan yang main-main, mengingat bahwa dengan menikah kamu bersiap menjadi istri sekaligus ibu. Dengan menjadi seorang istri, berarti kau harus melepaskan hidupmu dari ketergantungan kepada orang tua, dan mempercayakan hidupmu sepenuhnya kepada suami. Dan dengan menjadi seorang ibu, berarti kau harus punya waktu, tenaga, biaya, dan pikiran yang siap kau bagi demi buah hatimu. Itu jelas bukan suatu pengorbanan. Hanya sebuah pilihan, yang telah mereka yakini dapat membuat hidup mereka lebih baik.

Maka, perempuan sempurna buatku adalah, yang menjalani dengan baik kodrat mereka sebagai istri dan ibu, namun tetap bersemangat mengembangkan potensi dirinya sebagai seorang perempuan. Suatu saat nanti, kalau aku hamil dan berumah tangga, aku akan selalu ingat semangat yang dicontohkan kedua sahabatku, Hani dan Ami. Salutku untuk para (calon) ibu muda yang masih bersemangat kuliah dan beraktivitas!



 Dua Penjual Sepatu

oleh Bezie Galih Manggala pada 30 Januari 2012 pukul 14:43


Ada dua orang sales marketing sepatu yang dikirim oleh dua perusahaan berbeda yang bersaing untuk memasarkan produk mereka di sebuah pedalaman. Setibanya di sana, dua sales ini tercengang karena penduduk asli pedalaman tersebut sama sekali tidak mengenal sepatu, mereka pergi kemana-mana bertelanjang kaki. Sales dari perusahaan pertama langsung kehilangan harapan dan mengontak markas pusat. "Bos, pulangkan saja saya. Jualan sepatu disini tidak akan laku, tidak satu orang pun mau memakai sepatu!" kata sales tersebut di ujung telepon.

Begitu juga sales marketing yang kedua, langsung menelepon markas pusatnya, bedanya sales ini menelepon dengan bersemangat dan berbinar-binar. "Bos, kita bahkan bisa bikin pabrik sepatu disini! Pasar kita banyak, belum satu orang pun memiliki sepatu!"

Sales yang kedua beruntung karena menjadi seorang optimist. Sedangkan sales yang pertama tentu saja langsung didamprat habis-habisan oleh bosnya karena bosnya mengirimnya kesana justru karena orang-orang pedalaman itu belum memakai sepatu.

Beberapa hari berselang, kedua sales itu diterima dengan baik oleh penduduk setempat. Mereka mulai melakukan langkah-langkah sosialisasi. Sales yang pertama memasang spanduk-spanduk dan kios sepatu, kemudian berbicara tentang sepatu pada setiap orang yang ditemuinya. Sementara sales yang kedua terlihat bersantai-santai menikmati pemandangan dan bercengkrama dengan penduduk setempat.

Sales yang pertama mengadakan seminar-seminar tentang kesehatan kaki dan bahaya cacing tambang jika tidak memakai alas kaki. Namun dalam seminar-seminarnya tersebut, tanpa sadar sales itu sering sekali mengkritik penduduk setempat yang dianggapnya terbelakang karena belum memakai sepatu. Sementara itu sales yang kedua sibuk mempelajari kearifan lokal dan bersabar tidak membicarakan sedikitpun mengenai sepatu. Ia selalu mengagumi dan mensyukuri betapa beruntungnya penduduk setempat karena masih hidup sangat dekat dengan alam, jauh dari egoisme materialis, jauh dari pertikaian-pertikaian politik.

Pada minggu ketiga, sales yang pertama mulai kehilangan semangat karena orang-orang tidak mau mendengarkan ceramahnya mengenai sepatu. Jarak antara penduduk setempat dan sales yang pertama pun meregang. Sedangkan sales yang kedua? Setelah menikmati permainan-permainan lokal, sales kedua kemudian mengenalkan pada penduduk setempat permainan sepak bola. Tapi sales ini cerdik dan membuat sebuah peraturan yang tidak pernah diketahui oleh penduduk lokal, sepak bola harus dilakukan di lapangan penuh kerikil!

Pada minggu ke empat, tepat satu bulan setelah kedatangan kedua sales itu, sales kedua berhasil membuat setiap pria di desa tersebut membeli sepatunya. :),

Adapun sales yang pertama?

Dia pulang, setelah mengakui kehebatan sales yang kedua dan belajar darinya. Sales yang pertama dengan lapang dada mengakui kesalahan metodenya dan belajar menjalankan apa yang dipelajari dari sales yang kedua. Bahkan dia memaksimalkan manfaat dari kesalahannya tersebut dengan menceritakan pengalaman ini pada rekan-rekan salesnya. :),

- Rabi'ul Awal 1433

Minggu, 22 Januari 2012

SHOW ME WHAT YOU WANT

oleh Aditya Putra Priyahita pada 9 Januari 2012 pukul 19:13
Beberapa kali saya dibuat jengkel sekaligus prihatin saat hendak melakukan shalat berjamaah di Masjid. Ketika berbaris membentuk shaf shalat seringkali saya harus melakukan ritual “romantis” dengan jamaah di sebelah kanan atau kiri saya: KEJAR-KEJARAN KAKI! Entah sudah berapa ratus shalat jamaah yang saya lalui dengan ritual menyebalkan ini.

Setiap saya berusaha merapatkan kaki saya dengan jamaah lain di sebelah saya, setiap kali itu pula mereka menjauhkan kakinya dari kaki saya. Karena saya merasa wajib merapatkan shaf, saya kejar lagi kaki jamaah di samping saya itu. Saya tempelkan lagi sisi samping kaki saya di kakinya. Eh, dia masih juga menggeser kakinya menjauh, tidak mau merelakan kakinya ditempeli kaki saya. Perasaan kaki saya juga nggak jelek-jelek amat, kenapa masih dijauhi? batin saya sedih.

Coba lagi ahh. Untuk yang ketiga kalinya saya menempelkan kaki saya lagi. Dan, luar biasa! Dia masih istiqomah menjauhkan kakinya dari kaki saya. Grrrr, Lama-lama aku injek juga ni orang, diiket plus dilakban biar nggak lari-lari lagi! batinku. Astaghfirullah, mau shalat malah emosi.

Biasanya setelah tiga kali percobaan gagal, saya menyerah. Terserah! Yang penting saya sudah berusaha merapatkan shaf. Mending fokus memulai shalat daripada melanjutkan ritual yang romantis tapi menyedihkan itu. Kaki saya ditolak! Loe, gue, END! Mulai saat ini kaki kita berjalan sendiri-sendiri saja! (Ya iyalah!)

Kejadian ini saya yakin juga sering dialami oleh teman-teman semua. Terutama di daerah pedesaan atau Masjid yang masih kental suasana tradisionalnya. Dan mayoritas kasus ini saya alami dengan orang-orang yang sudah tua.

Saya sendiri merasa heran. Padahal sebelum shalat banyak imam yang sudah mengingatkan dengan jelas, rapatkan dan luruskan shaf! Dan bapak-bapak terhormat yang menghindari kaki saya itu juga dengan jelas mengatakan “Sami’na wa atho’na”. Hello!!! Mana wa atho’na nya, Pak?!

Atau ketika pun imam tidak mengingatkan jamaah untuk merapatkan shaf, para jamaah seharusnya juga sudah memahami bahwa shalat berjamaah itu harus meluruskan dan merapatkan shaf. Nah, ini yang jadi PR. Para jamaah yang memang belum tahu atau sudah tahu tapi menyepelekannya? Entahlah.

Oke, saya tidak mau membahas itu. Yang saya pikirkan adalah bagaimana agar saya sebisa mungkin tetap bisa meluruskan dan merapatkan shaf. Agar kaki saya yang indah ini tidak ditolak lagi oleh jamaah sebelah. Ini menjadi sangat urgent mengingat betapa pentingnya meluruskan shaf dalam shalat jamaah. Lebih lanjut tentang ini bisa dibaca di link berikut.

http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/pentingnya-meluruskan-dan-merapatkan-shaf-ketika-sholat-berjamaah.htm

Tentu solusinya bukan dengan menceramahi mereka tentang pentingnya merapatkan shaf saat itu juga sebelum shalat. Bisa-bisa malah jadi panjang urusannya. Bukan pula dengan mendandani kaki saya agar tampak lebih menarik agar banyak kaki mau mendekat. (Please, deh!).

Alhamdulillah beberapa waktu yang lalu saya sudah menemukan cara yang cukup efektif untuk mengatasi jamaah yang keukeuh tidak mau merapatkan shaf. Walau cara ini tidak berhasil 100%, tapi cukup drastis mengurasi insidensi ritual kejar-kejaran kaki itu. Simple saja. Setiap hendak merapatkan kaki saya dengan kaki jamaah lain di sebelah, saya mencondongkan badan ke bawah agak lama sambil melihat ke bawah seolah memastikan bahwa kaki saya dan jamaah sebelah benar-benar rapat, atau setidaknya bersentuhan. Dan ajaib! Jamaah yang biasanya menjauhkan kakinya dari kaki saya kali ini diam. Merelakan kakinya bersentuhan erat dengan kaki saya. Alhamdulillah, kaki saya diterima! Yess!

Bingung kenapa bisa begitu? Cara ini berhasil karena sebuah prinsip yang saya terapkan: SHOW ME WHAT YOU WANT! Yup, apa yang saya lakukan dengan mencondongkan badan ke bawah tadi cuma punya satu tujuan, yaitu MENUNJUKKAN kepada jamaah di sebelah saya bahwa saya benar-benar ingin merapatkan kaki saya dengan kakinya. Ya, menunjukkan. Jadi jamaah sebelah akan memahami bahwa merapatnya kaki kami berdua adalah sebuah kesengajaan yang saya inginkan, bukan sebuah kebetulan. Hal ini setidaknya membuat jamaah sebelah menghormati keinginan saya dan bersedia merapatkan kakinya dengan kaki saya.

Sebelumnya jamaah sering menjauhi kaki saya mungkin karena merasa tidak nyaman dengan kaki yang saling menempel dengan jamaah lain. Atau justru tidak ingin membuat jamaah lain merasa tidak nyaman. Saya pribadi pun jika merapatkan shaf bukan keharusan saya memilih tidak merapatkannya karena memang lebih enak kalo kaki kita tidak saling menempel waktu shalat.

Menunjukkan kepada jamaah lain bisa dengan seperti yang saya lakukan (dengan gerakan tubuh) atau dengan ucapan (tapi bukan ceramah, lho!) atau dengan kombinasi keduanya. Untuk kondisi biasa saya memilih dengan gerakan tubuh saja. Tapi untuk kondisi khusus saya biasanya menambahinya dengan kata-kata. Misalnya untuk orang yang saya hormati atau lebih tua saya ucapkan “Monggo, Pak dirapatkan shafnya” atau jika dengan anak-anak atau orang yang lebih muda dan potensial ngeyel saya katakan “Ayo dik, dirapetin shaf-nya” sambil sedikit merangkul pinggang atau bahunya dan menariknya mendekat ke arah saya.

Orang Indonesia (terutama orang Jawa) yang sering nggak enakan sama orang lain biasanya akan menurut dengan kata-kata itu. Dengan apa yang saya lakukan tadi harapannya jamaah di samping saya akan memahami pentingnya mempraktekkan kelurusan dan kerapatan shaf tanpa harus diceramahi. Atau kalaupun tidak, mereka akan merapatkan shaf karena merasa sungkan atau nggak enak sama saya. Itu lebih baik daripada shaf shalatnya tidak rapat.

Nah itu sekadar pengalaman betapa pentingnya menunjukkan apa yang kita inginkan kepada orang lain. SHOW ME WHAT YOU WANT adalah sebuah prinsip fundamental dalam komunikasi yang berfungsi memastikan bahwa tujuan sebuah komunikasi itu tersampaikan. Komunikasi sendiri adalah hal vital dalam setiap jenis hubungan antarmanusia. Sebuah hubungan akan menjadi baik dan sehat jika komunikasi yang ada di dalamnya juga sehat.

Banyak kasus kerenggangan atau keretakan hubungan manusia yang berawal dari rusaknya komunikasi. Perceraian suami istri, ketegangan dalam kantor antara atasan dan bawahan atau antara sesama pegawai, ketidakharmonisan hubungan orang tua anak, dan sebagainya. Dan betapa banyak kerusakan komunikasi itu berawal dari keengganan kita untuk menunjukkan dan menyampaikan apa yang sesungguhnya kita inginkan dan kita rasakan.

Seorang istri merasa tidak dicintai suaminya karena tidak pernah mendapatkan ungkapan kasih sayang secara verbal dari suaminya yang pemalu dan kurang ekspresif. Namun, sang istri tak mau mengatakan pada suaminya tentang keinginannya agar setiap pagi suaminya “sekadar” mengucapkan “I love you” sebagai charge semangatnya untuk beraktivitas seharian. Berharap suaminya bisa tahu dengan sendirinya keinginannya itu.

Dan sayangnya sang suami bukan dukun atau pesulap yang bisa menebak apa keinginan istri tanpa diberitahu. Suaminya yang introvert itu tak pernah tahu apa yang diinginkan istrinya. Padahal Ia sebenarnya sangat ingin membahagiakan istrinya setelah merasakan bahwa akhir-akhir ini hubungan mereka agak merenggang.

Celakanya, si suami juga tidak menyampaikan kepada istrinya tentang keinginannya untuk memperbaiki hubungan mereka dengan memberikan kebahagiaan lebih kepada istrinya dengan mengabulkan permintaannya. Ia berharap istrinya nanti akan berinisiatif menyampaikan keinginannya padanya sehingga Ia bisa dengan heroik memenuhi keinginan istri tercintanya itu. Sebuah ucapan “I love you” setiap pagi tentu saja tidak berat bagi sang suami, ANDAI SAJA IA TAHU.

Lengkap sudah, saling berdiam diri seperti ini bisa saja membawa pernikahan mereka pada kehancuran. Istri merasa suaminya sudah tidak sayang lagi bahkan mempunyai wanita lain di luar rumah karena tak sekalipun mengungkapkan rasa cintanya padanya. Sementara sang suami merasa tidak dipedulikan lagi oleh istrinya karena bahkan istrinya sudah enggan meminta kepadanya. Menyedihkan.

Hubungan orangtua dan anak sama saja. Banyak anak terjebak mengikuti pilihan orang tuanya soal studi, jodoh, atau apapun dengan membunuh keinginan pribadinya karena Ia tak pernah berani menyampaikan pada orangtuanya apa yang sebenarnya ia inginkan, sehingga hal itu bisa didiskusikan dengan orangtuanya. Demikian juga dengan hubungan persahabatan, hubungan dengan tetangga, orangtua dan anak, hubungan kerja, dan berbagai hubungan lainnya.

Panjang jika di bahas satu persatu mengenai pentingnya menunjukkan apa yang kita inginkan dan kita rasakan pada orang-orang di sekitar kita. Tapi satu hal yang pasti, mulai dari sekarang kita harus belajar untuk lebih terbuka karena ini adalah sebuah kebiasaan yang perlu dilatih. Orang yang terbiasa tertutup dan tak pernah mengungkapkan keinginan dan perasaannya akan seterusnya cenderung seperti itu sampai dia benar-benar mengupayakan untuk berubah.

Saya sendiri juga terlahir dengan kecenderungan seorang melankolis yang introvert. Jarang sekali mengungkapkan keinginan dan emosi secara langsung serta cenderung penjadi seorang pemendam perasaan. Dan saya sadar sepenuhnya bahwa saya harus mulai berbenah.

Sekarang saya sedang berusaha untuk lebih ekspresif mengungkapkan setiap perasaan yang saya rasakan. Jika saya memiliki suatu keinginan kepada seseorang, saya berusaha untuk menyampaikannya. Prinsip ini memang memerlukan keberanian sekaligus kerendahan hati. Tapi jika diterapkan secara tepat hal ini akan benar-benar meningkatkan kualitas hubungan kita dengan orang lain. Sikap terbuka ini dalam banyak hal juga membuat saya lebih lega karena tidak ada perasaan atau keinginan yang dipendam dalam hati.

Tentu sikap ekspresif ini tidak bisa digeneralisir untuk semua kasus. Karena ada hal-hal tertentu dimana kondisi memang mewajibkan kita untuk tidak mengekspresikan perasaan kita. Nah, adalah kebijaksanaan kita untuk mengenali kondisi-kondisi itu dengan terus berlatih berkomunikasi dan berinteraksi dengan berbagai macam orang. Yang menjadi penting di sini adalah memahami agar jangan sampai kita memendam perasaan dan keinginan di saat seharusnya kita menyampaikannya. Jangan sampai malapetaka hadir dalam kehidupan kita hanya karena kita malu atau gengsi menyatakan perasaan dan keinginan kita.

Allahu a’lam
Semoga bermanfaat. ^^9

kisah kita tak akan berakhir bahagia, jika kita tak bisa saling terbuka
karena aku tak mungkin dapat selalu membaca, apa makna yang tersirat di wajahmu
The Rain-Tersirat di Wajahmu

Purwokerto, 9 Januari 2012
www.adityasaja.blogspot.com